PERANG VIETNAM

Vietnam yang merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang termuda, saat ini sudah berkembang menjadi salah satu negara yang maju khususnya dalam sektor pariwisata. Ketika menyebut negara Vietnam, pasti yang terlintas di benak kita adalah sebuah negara yang menjadi tempat pertempuran yang besar antara tentara Amerika dan pihak Komunis Vietnam Selatan. Perang Vietnam merupakan perang terpanjang dalam sejarah Amerika karena berlangsung selama 12 tahun, 2 bulan dan 29 hari. Perang Vietnam secara resmi dimulai 8 Maret 1965.

Perang Vietnam merupakan salah satu dari beberapa konflik semasa Perang Dingin antara Amerika Serikat dan sekutunya menentang Uni Soviet dan sekutunya. Perang seperti ini disebut sebagai Perang Proksi karena Amerika Serikat dan Uni Soviet sendiri tidak pernah bersemuka secara terang-terangan di medan pertempuran karena khawatir akan meletuskan perang nuklir. Dua kubu yang saling berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina bersekutu dengan Vietnam Selatan, sedangkan USSR dan Tiongkok mendukung Vietnam Utara yang merupakan negara Komunis.

Banyak orang Vietnam diperintahkan berperang ribuan mil jauhnya dari tempat tinggal mereka. Sekitar dua juta orang Vietnam terbunuh dan lebih dari 50 ribu tentara Amerika mati. Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi diantara lain yakni Operasi Phoenix yang dimotori oleh CIA, kisah pembantaian Tiger Force, operasi Speedy Express (operasi kejam dimana Divisi Infanteri Kesembilan AS menghabisi 11.000 orang, dan 5.000 diantaranya adalah warga sipil yang tidak memanggul senjata, Pembantaian My Lai, Serangan Tet (30 Januari 1968–1969), yang merupakan pembantaian yang dilakukan oleh tentara AS terhadap ratusan warga sipil Vietnam yang tidak bersenjata, dan kebanyakan perempuan dan anak-anak, pada 16 Maret 1968.

Selama tahun 1968-1969 saja, di zaman Richard Nixon, tentara AS melakukan 400.000 kali peledakan bom per tahun dengan menjatuhkan 1,2 juta bom. Akibat peledakan bom itu, 200.000 tentara Vietnam Komunis tewas, 585.000 orang mengungsi, dan 130.000 rakyat tak berdosa meninggal. Tanggal 30 april 1975, perang Vietnam berakhir dengan kemenangan Vietnam utara. Vietnam Selatan dengan singkat menjadi Republik Vietnam Selatan, sebuah negara boneka di bawah kekuasaan militer oleh Vietnam Utara, sebelum secara resmi disatukan dengan Utara di bawah pemerintahan Komunis sebagai Republik Sosialis Vietnam pada 2 Juli 1976. Perang Vietnam merupakan pengalaman pahit bagi rakyat AS. Itulah lembaran hitam sejarah AS yang tidak ingin diulang lagi dan tidak dikehendaki rakyatnya. Hal-hal apa saja yang melatar belakangi terjadinya perang tersebut?

LATAR BELAKANG
TERJADINYA PERANG VIETNAM

MASA KOLONIALISASI

Pada saat Perang Dunia II baru berakhir, terdapat gejala bahwa Negara-negara yang masih terjajah dikuasai semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan. Keinginan ini juga dimiliki oleh Ho Chi Minh, pemimpin Viet Minh, yang merupakan gerakan populer yang beranggotakan orang-orang katolik, budha, pengusaha kecil, orang-orang Komunis dan para petani untuk memerdekakan diri dari kolonialisme Perancis.
Sebelum masa penjajahan Perancis, Vietnam dijajah oleh Tiongkok sejak tahun 110 SM sampai mencapai kemerdekaan pada tahun 938. Setelah bebas dari belenggu penjajahan Tiongkok, Vietnam tidak berhenti menentang serangan pihak asing.

Pada abad ke-19, Vietnam menjadi wilayah jajahan Perancis. Perancis menguasai Vietnam setelah melakukan beberapa perang kolonial di IndoChina mulai dari tahun 1840an. Ekspansi kekuasaan Perancis disebabkan keinginan untuk menyaingi kebangkitan Britania Raya dan kebutuhan untuk mendapatkan hasil bumi seperti rempah-rempah untuk menggerakkan industri di Perancis untuk menyaingi penguasaan industri Inggris. Semasa pemerintahan Perancis, golongan rakyat Vietnam dibakar semangat nasionalisme dan ingin kemerdekaan dari Perancis. Beberapa pemberontakan dilakukan oleh banyak kelompok-kelompok nasionalis, tetapi usaha mereka gagal. Pada tahun 1919, semasa Perjanjian Versailles dirundingkan, Ho Chi Minh meminta untuk bersama-sama membuat perundingan agar Vietnam dapat merdeka. Permintaannya ditolak dan Vietnam dan seluruh IndoChina terus menjadi jajahan Perancis.

Semasa Perang Dunia II, Office of Strategic Services atau OSS (kini CIA) memberikan bantuan ketentaraan kepada Ho Chi Minh. Selepas Perang Dunia II, Amerika Serikat melihat Viet Minh dengan kesangsian, karena pegangan Komunisme Viet Minh. Walaupun demikian, pegawai-pegawai OSS masih ditugaskan untuk tujuan penyelarasan dengan Viet Minh. OSS memberikan bantuan kepada Viet Minh untuk mengurus pengiriman pulang anggota tentara Amerika yang telah menjadi tawanan perang Jepang dan ditahan di Vietnam. Pada 26 September 1945, Lt. Col. A. Peter Dewey seorang pegawai OSS ditembak mati oleh Viet Minh, menjadikan beliau anggota tentara pertama terbunuh di Vietnam.

PERANG KOREA, UPAYA AS MENHADANG KOMUNISME

Dengan tercetusnya Perang Korea, Presiden Harry S. Truman meningkatkan bantuan ketentaraan kepada kerajaan Perancis untuk memungkinkan kemenangan Perancis mengatasi pemberontakan oleh Viet Minh. Harry S. Truman mengumumkan "acceleration in the furnishing of military assistance to the forces of France and the Associated States in Indochina…" dan mengirim 123 orang pegawai tentara ke Vietnam untuk membantu Perancis dalam perang. Pada tahun 1951, Presiden Harry S. Truman membuat sumbangan $150 juta untuk membantu membiayai perang Perancis di Vietnam.

Presiden Dwight D. Eisenhower menggunakan kuasa Tentara Amerika Serikat untuk membantu pertumbuhan sebuah Negara bukan Komunis di Vietnam Selatan. Eisenhower sangat risau akan kejayaan pihak Komunis dalam perluasan pengaruhnya di Asia Tenggara. 142,000 orang anggota tentara Amerika Serikat terbunuh di Korea dalam usaha penghadangan Komunisme di Semenanjung Korea. Di Malaya, Eisenhower melihat Tentara Inggris dan anak-anak Malaya bergelut menentang pemberontakan oleh Partai Komunis Malaya. Amerika Serikat melihat ini sebagai bagian dari raencana besar Komunisme untuk berpijak dan menularkan pahamnya ke seluruh pelosok dunia.

Eisenhower tidak ingin pengorbanan besar di Korea akan menjadi sia-sia sekiranya Komunisme berhasil menguasai Asia Tenggara. Tetapi Eisenhower menghadapi kesukaran mendapatkan dukungan publik untuk melibatkan diri dalam satu lagi peperangan selepas Perang Korea. Dwight D. Eisenhower menggunakan pasukan-pasukan kecil "penasihat tentara" yang disebut Kumpulan Bantuan Penasihat Tentara (Military Assistance Advisory Group) ataupun MAAG ke Vietnam Selatan untuk membantu Vietnam Selatan menentang Komunisme.

Pada 1 November 1955, Dwight D. Eisenhower mengirim rombongan pertama MAAG ke Vietnam Selatan untuk memberikan latihan kepada Tentara Vietnam Selatan (ARVN). Ini merupakan permulaan campur tangan resmi Amerika Serikat di dalam perang Vietnam. Pada 8 Julai, 1958, Charles Ovnand and Dale R. Buis menjadi anggota MAAG pertama terbunuh semasa bertugas di Vietnam.

MASA KEKUASAAN JEPANG


Pada akhirnya, Kelompok Viet Minh berhasil mendapat dukungan dan mengusir Perancis dari Vietnam. Selama Perang Dunia II, Vietnam dikuasai oleh Jepang. Pemerintah Perancis Vichy bekerjasama dengan Jepang yang mengirim tentara ke IndoChina sebagai pasukan yang berkuasa secara de facto di kawasan tersebut. Pemerintah Perancis Vichy tetap menjalankan pemerintahan seperti biasa sampai tahun 1944 ketika Perancis Vichy jatuh setelah tentara sekutu menaklukan Perancis dan jendral Charles de Gaulle diangkat sebagai pemimpin Perancis. Setelah pemerintah Perancis Vichy tumbang, pemerintah Jepang menggalakkan kebangkitan pergerakan nasionalis di kalangan rakyat Vietnam. Pada akhir Perang Dunia II, Vietnam diberikan kemerdekaan oleh pihak Jepang. Ho Chí Minh kembali ke Vietnam untuk membebaskan negaranya agar tidak dijajah oleh kekuasaan asing.

KEBERPIHAKAN AS TERHADAP PERANCIS

Ho Chi Minh mengharapkan bantuan Amerika untuk bisa lepas dari Perancis dan menegaskan bahwa dirinya bukan Komunis. Ho Chi Minh mengharapkan negara Amerika Serikat akan menyokong negara baru di Vietnam, walaupun negara baru itu sebuah negara di bawah pengaruh Komunis. Harapan beliau Amerika Serikat akan mengkotakan ucapan-ucapan Franklin D. Roosevelt yang menentang kolonialisme Eropa selepas Perang Dunia II. Franklin D. Roosevelt ingin agar rakyat negara-negara Dunia Ketiga menentukan nasib mereka sendiri. Ho Chi Minh pun mengirimkan surat terpisah kepada dua belas petinggi gedung putih dan juga ke komisi luar negeri senat AS agar mereka memahami atau memberi dukungan moral untuk menyuarakan perjuangannya lepas dari kolonialisme Perancis. Namun AS tidak membaca suratnya dan menolak permintaan bantuannya dan justru melibatkan diri di Vietnam dengan membantu Perancis.

Di bawah pimpinan Harry S. Truman, Amerika Serikat tidak membantah Perancis menduduki semula tanah-tanah jajahannya, termasuk Vietnam, selepas tamat perang. Amerika bahkan menawarkan ke pihak prancis dua bom atom, yang dengan penuh maaf ditolak oleh Perancis. Setelah gagal mendapatkan bantuan dari Amerika, akhirnya Ho Chi Minh berpaling mencari bantuan ke pihak Komunis (Uni Soviet dan Cina).

TERPECAHNYA VIETNAM

Ho Chi Minh berhasil mengalahkan lawannya dalam pertempuran di Dien Bien Phu, 7 Mei 1954 dengan kemenangan telak. Setelah kemenangan tersebut, diadakan perundingan di Jenewa antara pihak Viet Minh dan Perancis, dan mereka menandatangani beberapa kesepakatan. Kesepakatan penting dalam perjanjian tersebut membagi Vietnam untuk sementara waktu menjadi 2 dengan garis lintang 17 derajat sebagai batas.

Orang-orang Komunis di bawah Ho Chi Minh mendapatkan mendapatkan bagian utara, sedangakan rezim Bao Dai diberi wilayah selatan. Dalam perundingan tersebut juga disepakati tentang penyelenggaraan pemilu akan diselenggarakan dua tahun lagi untuk menyatukan kembali Negara tersebut. Amerika serikat menentang penyelenggaraan pemilu nasional karena khawatir Ho Chi Minh akan keluar sebagai pemenang. Oleh karena itu, AS menolak untuk menandatangani persetujuan Jenewa. Bagi Amerika, jika pemilu nasional diadakan bulan 1956 dan jika Viet Minh tidak berkeberatan hampir bisa akan menang. Itulah mengapa AS berusaha membekengi Vietnam selatan untuk menolak pemilu tersebut. Semua orang yang memahami masalah indocina selalu mengatakan bahwa jika pemilu diselenggarakan di masa perjuangan, kemungkinan 80 persen penduduk akan lebih memilih Ho Chi Minh sebagai pemimpin mereka.

Dalam usahanya mengalahkan Ho Chi Minh, CIA menempatkan Ngo Dhin Diem yang fasistik untuk menguasai bagian selatan. CIA pun menyebarkan propaganda buruk tentang Ho Chi Minh. Menakut-nakuti orang selatan bahwa Ho sedang mengerahkan orang-orang utara untuk menyerbu ke selatan. Informasi seperti ini diharapkan dapat turut memunculkan dorongan dari warga Amerika agar Amerika secepatnya melakukan tindakan terhadap Ho.

Pihak Komunis memang bersiap sedia untuk menyerang Vietnam Selatan, sejak sebelum Perjanjian Geneva ditandatangani. Persiapan ini dibuat sekiranya penyatuan tidak dapat dicapai melalui kemenangan dalam pilihanraya. Ho Chi Minh memerintahkan beribu-ribu orang agen Komunis untuk menyusup masuk ke Vietnam Selatan, dan menyediakan tempat tersembunyi untuk simpanan senjata.

Taktik CIA selanjutnya, yakni pada tahun 1954, CIA memanaskan situasi dengan menjalankan Operasi Phoenix sehingga pemilu nasional yang direncanakan berlangsung pada tahun 1956, sesuai dengan persetujuan Jenewa, gagal dilaksanakan. Terdapat 2 pelanggaran terhadap persetujuan Jenewa yang dilakukan oleh pihak selatan. Yang pertama, Ngo Dhin Diem, dibawah perlindungan AS melakukan pelanggaran terhadap persetujuan jenewa dengan menolak berpartisipasi pada pemilu nasional itu. Uni Soviet mengusulkan pemisahan permanen antara Vietnam utara dan Vietnam selatan, menjadi dua Negara yang diakui oleh PBB. Usul ini ditolak oleh AS yang tidak mau mengakui Vietnam yang Komunis. Pada akhirnya diadakan pemilu, namun hanya diadakan di Selatan dan peristiwa ini menandai terbentuknya Republik Vietnam (dikenal luas dengan nama Vietnam Selatan) dengan Ngo Dhin Diem sebagai presiden pertamanya. Pelanggaran yang ke dua terhadap persetujuan Jenewa dilakukan secara langsung oleh AS dengan mengirimkan penasehat-penasehat militernya untuk melatih tentara Republik Vietnam.

PERLAWANAN RAKYAT SELATAN TERHADAP PEMERINTAHAN DIEM

Aksi pertama Diem sebagai presiden adalah mengembalikan lagi tanah yang dibagi-bagikan kepada petani oleh Viet Minh kepada tuan-tuan tanah. Ini tentu sangat menyebabkan penderitaan bagi petani-petani Vietnam. Ditambah pula atas saran Amerika, Diem juga memaksa para petani meninggalkan rumah-rumah mereka dan memindahkan mereka ke pemukiman yang diawasi ketat demi membendung dan menahan aktivitas kaum Komunis. Tindakan Diem ini tentu tidak diterima begitu saja oleh rakyat Vietnam selatan. Rakyat Vietnam selatan melakukan perlawanan mendalam terhadap pemerintahan Diem. Benih-benih kekecewaan inilah yang memicu pembentukan front pembebasan nasional (NLF), pada tahun 1960. NLF adalah sebuah kelompok yang bertekad menjatuhkan Diem dan menyatukan kembali Vietnam. Ho Chi Minh menjadi nadi penting bagi NLF di Vietnam Selatan dan menjadi sasaran serangan udara oleh Tentara Udara Amerika Serikat. NLF dibekali senjata oleh tentara Vietnam selatan melalui terusan Ho Chi Minh.

Ho Chi Minh menerima senjata dan peralatan lain dari Uni Soviet dan China melalui Pelabuhan Haiphong. Peralatan dan senjata ini kemudiannya diantar melalui terusan Truong Son (dipanggil terusan Ho Chi Minh oleh pihak Amerika Serikat) kepada NLF dan Viet Cong di Vietnam Selatan. terusan Truong Son ini melalui negara jiran Laos dan Kamboja, dan berakhir kira-kira 50 km di luar Saigon. Hal ini merumitkan keadaan, dan Amerika Serikat tertekan karena tidak dapat menyerang terusan ini tanpa memasuki ataupun menaklukkan kawasan negara-negara tersebut. Dalam masa yang sama, Laos dan Kemboja sendiri menghadapi pemberontakan oleh kumpulan-kumpulan Komunis di negara mereka. Di Laos, kumpulan Pathet Lao dipengaruhi dan dilengkapkan oleh Vietnam Utara. Kamboja secara rahasia membenarkan kawasannya digunakan oleh Vietnam Utara untuk pengiriman senjata kepada pemberontak di Vietnam Selatan.

Penentangan terhadap pemerintahan Ngo Dinh Diem semakin kuat dan terbuka, Vietnam Utara mencetuskan satu insurgensi di Vetnam Selatan. Barisan Pembebasan Kebangsaan (National Liberation Front) diurus, dibiayai dan diberikan perbekalan oleh Vietnam Utara. Amerika Serikat, Kesatuan Soviet dan Republik Rakyat China semakin terlibat.
Satu tahun sebelum Amerika mengangkut pasukan militernya untuk mengibarkan perang, situasi Vietnam makin memanas. Pada tahun 1963, dibawah presiden Kennedy, AS menempatkan penasihat-penasihat militer di Vietnam selatan; mula-mula 800 orang dan terus meningkat menjadi 17 ribu orang.

PENGGULINGAN KEKUASAAN DIEM

Pada saat yang bersamaan, Diem yang didukung oleh CIA menunjukkan tabiat yang makin refresif dengan kekuasaan yang apa adanya dan tidak sensitif sebagai kepala Negara. Sebagai pemeluk Katolik, dia berkali-kali mengecewakan orang Budha yang merupakan penduduk mayoritas di Vietnam; ia secara rutin menolak memberikan posisi di pusat pemerintahan kepada orang-orang non katolik dan justru memberikan posisi-posisi penting kepada keluarga dekat nya. Saudara laki-lakinya, Ngo Dhin Diem dia tunjuk menjadi menteri dalam negeri dan menjabat sebagai kepala polisi rahasia yang secara keras melancarkan berbagai teror kepada lawan-lawan politik Diem. Saudaranya yang lain, Ngi Dhin Can, menguasai Vietnam tengah. Sementara itu saudaranya yang lain lagi adalah uskup di Saigon.

Diem membuat kemarahan umat Budha makin memuncak dan mereka menggelar demonstrasi besar-besaran di bulan Mei 1963. Sembilan orang terbunuh di bulan tersebut melalui aksi kekerasan yang dilakukan para polisi rahasia. Para pendeta Budha menanggapi tindak kekerasan ini dengan protes membakar diri yang mengejutkan bagi publik Amerika Serikat. Pemerintahan Kennedy melihat Diem, orang kesayangan AS, sebagai hal yang memalukan. Ngo Dinh Diem juga keras hati dan tidak selalumau menerima “nasihat” oleh pegawai Tentara Amerika, sebaliknya membuat keputusan sendiri.

Ketika sekelompok jenderal angkatan bersenjata menyampaikan keinginan mereka untuk menggulingkan Diem, Duta besar Henry Cabot, Lodge menyatakan kepada mereka bahwa AS tidak berkeberatan. Maka, tanggal 2 November 1963, di pinggiran Saigon (kini Ho Chi Minh City), Diem dan saudaranya Nhu ditembak mati. Dokumen-dokumen rahasia CIA yang dibuka tahun 1999 mengungkapkan bahwa sesungguhnya Kennedy sendirilah yang mula-mula menghendaki penggulingan Diem, dan ini berkebalikan dari apa yang disampaikan sebelumnya oleh pemerintah. Setelah penggulingan Diem, Keadaan menjadi huru hara dan Vietnam Utara mengambil kesempatan untuk menguatkan kedudukannya di Vietnam Selatan.

Vietnam Selatan kemudian mengalami satu tempo ketidakstabilan, dengan pemerintahan yang saling berganti. Amerika Serikat semakin mengkhawatirkan keadaan dan meningkatkan bilangan anggota penasihat tentaranya di Vietnam. Secara perlahan, Amerika Serikat ditarik masuk ke dalam kemelut perang di Vietnam. Tujuh kerajaan mengambil kuasa dalam tahun 1964. Dalam tempo 16 agustus hingga 3 September saja, kekuasaan bertukar sebanyak 3 kali. Peralihan ini hanya menguatkan pergerakan Viet cong dan anasir Viet Minh. Mereka menggunakan sepenuhnya kekosongan kuasa ini untuk menguatkan kedudukan mereka dan mengumpulkan lagi persediaan senjata dan peralatan lain.

PERGANTIAN PRESIDEN AS DARI KENNEDY KE JOHNSON


Di Amerika Serikat, pada bulan yang sama terjadi pergantian presiden. John F. Kennedy mati ditembak pada tanggal 22 november 1963 dan Lyndon B. Johnson (LBJ), wakil presiden, kemudian dilantik menjadi presiden.
Sebenarnya, Dalam tubuh pemerintahan Presiden Lyndon B. Johnson, tidak kurang Wakil Menlu George Ball menyuarakan penolakannya terhadap Perang Vietnam. Pada 1967 Presiden Johnson bahkan memecat Menhan McNamara setelah dia mempertanyakan justifikasi moral keterlibatan AS dalam Perang Vietnam. Selain persoalan moral, sebagian pihak dalam pemerintahan Johnson sendiri juga memandang bahwa ongkos yang harus ditanggung oleh AS atas keterlibatan mereka di Vietnam sesungguhnya terlalu mahal jika dibandingkan keuntungan yang didapat.
Sementara para politikus di Partai Demokrat (Presiden Johnson berasal dari partai ini) juga terbelah. Derasnya sorotan terhadap kebijakan Johnson di Vietnam akhirnya membuat dia mundur dari arena konvensi. Perpecahan ini bagaimana pun memberi sumbangan terhadap kemenangan calon presiden dari Partai Republik Richard M. Nixon.
Sementara, di kalangan rakyat AS pembelaan yang sama juga terjadi. Para penentang perang mengorganisasi berbagai kegiatan untuk menekan pemerintah agar menarik diri dari Perang Vietnam. Sebaliknya, para pendukung perang mendukung tindakan tentara untuk mencegah meluasnya pengaruh kekuasaan Komunis. Selain itu, mereka percaya bahwa aktifitas yang dilakukan oleh kelompok anti-perang sesungguhnya mencerminkan sikap tidak patrotik, sebab pada saat yang sama anak-anak bangsa lainnya berjuang di medan Perang Vietnam bertaruh nyawa.
Meski keterlibatan AS dalam konflik di Vietnam sudah berjalan beberapa lama, tetapi hingga awal 1965 isu ini baru menjadi perhatian utama kalangan tertentu di AS. Pengeboman Vietnam Utara oleh pasukan AS atas perintah Presiden Johnson pada Februari 1965 dapat disebut sebagai pemicu yang meledakkan gerakan penentangan hingga meluas ke berbagai wilayah di AS.

KEBIJAKAN LYNDON B. JOHNSON TERHADAP VIETNAM
Dalam bulan Juni, 1964 Presiden Lyndon B. Johnson melantik Jeneral William Westmoreland menggantikan Paul D. Harkins sebagai Pemerintah MAAG di Vietnam. Di bawah pimpinan Westmoreland, jumlah anggota Tentara Amerika meningkat dari 16,000 orang anggota dalam tahun 1964 menjadi lebih 500,000 orang selepas Serangan Tet dalam tahun 1968. Peningkatan dibuat secara berperingkat oleh Westmoreland. Peningkatan pertama berlaku pada 27 Julai, 1964, apabila 5,000 orang penasihat tentara dikerahkan ke Vietnam, menjadikan jumlah anggota total 21,000 orang.
Sebagai orang nomor satu, Lyndon B. Johnson meningkatkan jumlah penasihat itu besar-besaran di tahun 1964 dan ditahun itu juga ia melaporkan ke kongres bahwa Vietnam Utara telah menyerang kapal pengintai milik Angkatan Laut AS, USS Maddox, yang sedang berlayar di teluk Tonkin. Kelak akan terungkap bahwa laporan tentang penyerbuan kapal ini palsu semata. Namun pada saat itu, kongres melalui resolusi teluk Tonkin memberikan persetujuan kepada presiden untuk mengirimkan pasukan perang ke Vietnam. Dengan kebohongannya, AS menghancurkan Vietnam dalam perang yang panjang dan penuh kekejian dan intervensi yang dilakukannya menjadi sangat massif dalam dua hal, yakni berbohong terus-menerus dan dalam melakukan pembunuhan. Sekitar dua juta orang Vietnam terbunuh dan lebih dari 50 ribu tentara Amerika mati.

KESIMPULAN

Kebijakan AS untuk terlibat dalam Perang Vietnam, dipicu oleh sikap paranoid Amerika terhadap orang-orang Komunis, sebuah keganasan yang konon hanya dimaksudkan untuk mencegah efek domino persebaran Komunisme di Asia Tenggara. Kebijakan ini terus mewarnai pemerintahan AS dari masa Dwight D. EisenHower (1953-1961), John F. Kennedy (1961-1963), Lyndon B. Johnson (1963-1969), hingga Richard M. Nixon (1969-1974), dan baru berakhir di era Gerald R. Ford (1974-1977).
Pada hakikatnya, perang ini merupakan sebuah penyerbuan terhadap rakyat vienam, Komunis dan non-Komunis, oleh angkatan perang Amerika, sebuah invasi terhadap tanah air orang-orang Vietnam dan kehidupan mereka. Dan yang telah terjadi adalah bukan sama sekali penyerbuan oleh Komunis Vietnam utara terhadap non Komunis Vietnam selatan.
Dengan kebohongannya, AS menghancurkan Vietnam dalam perang yang panjang dan penuh kekejian dan intervensi yang dilakukannya menjadi sangat massif dalam dua hal, yakni berbohong terus-menerus dan dalam melakukan pembunuhan. Sekitar dua juta orang Vietnam terbunuh dan lebih dari 50 ribu tentara Amerika mati.



REFERENSI

BUKU
Setia, Pandu. Amerika Mengobarkan Perang: 20 Intervensi Militer & Upaya Pengguling Mulai dari Bung Karno sampai dengan Saddam Hussein. Jakarta: Media Kita, 2007.

SITUS WEB:
Kompas online - www.kompas.co.id
Uni Sosial Demokrat - www.Unisosdem.org
Harun Yahya - www.harunyahya.com/indo
Swara muslim – http://swaramuslim.net
Wapedia – http://wapedia.mobi/id/
Wikipedia – http://id.wikipedia.org/
Bluefame – www.bluefame.com
Encarta encyclopedia

BacA jUgA iNi



Category:

3 comments:

danil wanda said...

perang itu memang keji dan memalukan, apa yg mereka cari dan inginkan mereka yg terlibat penjajahan akan menghadapi pengadilan tuhan yang tak terelakkan

Putu Yudiantara said...

boleh tau sumbernya darimana ?? ada bukunya gak ??

Anonymous said...

Perang itu ada alasannya. Ktika membela kebenaran,, ya itu dibenarkan.. Tpi klo menjajah ya salaah.. Perang melawan keburukan ya di benarkan..
Klo ga berperang dan melawan, indonesia ya ga merdeka.. Maka perang pun dibutuhkan, ketika memerangi keburukan dan penjajahan..

Post a Comment