KEAMANAN NASIONAL JEPANG


Keamanan nasional menunjuk ke kebijakan publik untuk memastikan keselamatan dan keamanan negara melalui penggunaan kuasa ekonomi dan militer dan penjalanan diplomasi, baik dalam damai dan perang. Baik pertahanan maupun keamanan merupakan sebuah kesatuan yang terkait satu sama lain. Stabilitas keamanan suatu negara sangat dipengaruhi oleh kekuatan pertahanannya, baik pertahanan dari ancaman dalam negeri maupun acaman dari luar. paradigm realis remandang bahwa kekuatan militer merupakan konsep utama dalam interaksi utama dalam hubungan internasional.

Jepang sebagai sebuah negara maju sangat fokus terhadap masalah pertahanan keamanan nasionalnya. Hal ini dapat dilihat dari makin meningkatnya system keamanan Jepang dalam hal militer yang tak lepas dari adanya persaingan nuklir yang dilakukan oleh negara-negara tetangganya, dalam hal ini Korea Utara.

Sejarah Pertahanan keamanan Jepang sebelum masa Perang Dunia II
Adanya restorasi meiji menjadikan Jepang menjelma sebagai negara yang kuat dan modern. Bahkan akhirnya kedudukan Jepang dapat disejajarkan dengan negara Barat dan Eropa dan sejak saat itu Jepang berusaha melibatkan diri dalam percaturan dunia internasional. Sepanjang tahun 1930an sampai tahun 1940an Jepang menjelma sebagai kekuatan ekspansionis dengn berupaya merebut negara-negara atau provinsi-provinsi lain guna memperluas wilayahnya. Ada beberapa alasan mengapa Jepang bersemangat dan melibatkan diri dalam Perang Dunia II yakni:
1. Angkatan bersenjata Jepang dan masyarakat memiliki semangat patriotik yang sangat tinggi. Dengan angkatan bersenjata yang sangat kuat dan banyak, Jepang memiliki potensi untuk ekspansi hingga keluar wilayahnya.
2. Dari segi ekonomi, masyarakat Jepang sangat bergantung pada bahan makanan yang harus dibeli dari luar negeri, oleh karena itulah Jepang harus menjual banyak produk yang dihasilkannya sendiri ke negara lain. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi itulah, Jepang berusaha menguasai lebih banyak tanah jajahan di Asia Timur guna mendapatkan bahan makanan dan penyediaan bahan mentah bagi penduduk Jepang.
3. Meningkatnya jumlah penduduk Jepang, yang berarti Jepang membutuhkan lebih banyak makanan yang notabene diimpor dari luar negeri.
4. Kekecewaan Jepang terhadap Liga Bangsa-Bangsa / LBB (yang sekarang menjadi PBB). Jepang kecewa terhadap beberapa isi kesepakatan dalam Liga Bangsa-Bangsa. Salah satunya tidak dicantumkannya pasal tentang persamaan ras di seluruh dunia yang sama yang kala itu orang Eropa merasa lebih unggul daripada orang non Eropa.
5. Adanya kekecewaan Jepang terhadap konferensi angkatan laut di Washington (1921-1922) dimana Jepang telah diperlakukan secara buruk oleh kekuatan barat dimana Amerika dan Inggris diperbolehkan membangun 5 kapal perang sedangkan Jepang hanya diperbolehkan membangun 3 kapal perang.
6. Adanya restriksi (pembatasan migrasi) oleh Amerika Serikat dimana AS melakukan kontrol yang lebih ketat terhadap para imigran Asia daripada kelompok imigran lain.
7. Melemahnya hubungan Jepang dan Amerika karena pada tahun 1920an dan 1930an Amerika melakukan pemberian pajak yang tiggi terhadap produk-produk Jepang yang masuk ke Amerika Serikat. Tindakan ini diikuti pula oleh negara-negara eropa lainya yang cukup merugikan perekonomian Jepang. Akhirnya Jepang mengalihkan ekspornya ke negara-negara lain.
8. Adanya cita-cita Hakki –ichi-u yakni cita-cita membangun keluarga besar yang para anggotanya terdiri dari negara-negara di dunia ini dengan Jepang sebgai pemimpinnya.

Invansi Jepang terhadap dunia terjadi sekitar abad ke-19. setelah sebelumnya berhasil mengalahkan Rusia di tahun 1905, Jepang membuat gebrakan baru untuk membuat suatu dunia baru di Asia, yaitu Kawasan Persemakmuran bersama Asia Timur. Dengan permulaan Perang dunia II di tahun 1939, Jepang mempunyai kerajaan yang cukup besar di Asia Timur.

Melihat Invasi Jepang ke berbagai Negara Asia Timur, Amerika Serikat kemudian menempatkan pangkalan militer di kawasan pasifik, tepatnya di pearl harbor. Namun pada tanggal 7 Desember 1941 Jepang berani menyerang pangkalan militer Amerika tersebut. Serangan ini sangat mengejutkan bagi Amerika karena dilakukan tanpa pernyataan perang terlebih dahulu. Sebenarnya sudah lebih dari satu dasawarsa hubungan Amerika dan Jepang memburuk. Pemicunya adalah tatkala tentara Jepang pada tahun 1931 melakukan invasi ke Manchuria, provinsi paling utara Cina. Amerika lalu protes atas tindakan ini. Bukannya berpikir ulang terhadap invasi yang dilakukan, Jepang malah enam tahun kemudian menduduki daratan Cina. Tahun 1940 Eropa dilanda perang dengan melibatkan Aliansi Tengah yang beranggotakan Nazi Jerman dan Italia. Sebagai reaksi atas perang ini, Inggris, Belanda, dan Perancis menarik kekuatan militernya dari Asia Tenggara untuk memperkuat tentara mereka di Eropa. Jepang, yang sudah tidak harmonis lagi hubungannya dengan Amerika, lalu ikut sebagai negara ketiga dalam aliansi itu.

Keikutsertaan Jepang di Aliansi Tengah sebagai akal-akalan supaya negara ini punya sekutu. Selain itu, Jepang merasa mempunyai beking. Kehadiran Pangkalan Militer Amerika di Pearl Harbor, bagi Jepang tentunya menjadi ganjalan. Sementara bagi Amerika, perilaku invasi dan keikutsertaan Jepang dalam Aliansi Tengah, membuat berang negara ini. Atas kedua hal tersebut Amerika lalu mengenakan embargo, terutama minyak kepada Jepang. Embargo ini ditanggapi sebagai ancaman serius bagi keamanan nasional Jepang.

Itulah sebabnya, di antara perundingan diplomasi Jepang-Amerika, Jepang telah mempersiapkan skenario perang terhadap Amerika. Menyerang Pearl Harbor adalah bagian dari skenario besar invasi Jepang di Pasifik Barat. Sasarannya, agar Amerika memindahkan pangkalan militernya sehingga Amerika tidak ikut campur terhadap rencana invasi Jepang.

Atas semua kekejian itu, Pemerintah Amerika menyatakan perang terhadap Kekaisaran Jepang. Tiga hari kemudian Jerman dan Italia, yang menjadi sekutu Jepang, menyatakan perang terhadap Amerika. Perang terbuka ini menyulut terjadinya Perang Dunia Kedua. Lembaran sejarah ini dibuka dengan serangan Jepang terhadap Pangkalan Militer Amerika di Pearl Harbor, Desember 1941 dan ditutup dengan pengeboman Amerika ke Hiroshima dan Nagasaki bulan Agustus 1945
Pengeboman ini menandai kekalahan Jepang. Dan pada tanggal 14 agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat dan bersedia menerima perjanjian perdamaian jenis apapun yang dipaksakan amerika serikat dan sekutunya.

Pertahanan keamanan Jepang setelah masa Perang Dunia II

Pada tanggal 2 september 1945 ditanda tanganilah perjanjian yang salah satu isinya menyatakan bahwa Jepang diduduki oleh Amerika Serikat sampai 1952. Dari sinilah titik awal dimulainya kontrol AS atas Jepang. Amerika memaksa Jepang mengubah konstitusinya dimana Jepang menjadi negara Pasifis dan hanya dibolehkan memiliki angkatan bela diri (japan Self Defense Force).

Namun selama tahun 1990-an, Jepang mulai bergerak menjauhi konsensus pasifist-isolasionist yang mendominasi pendekatannya pada masalah keamanan selama era Perang Dingin. Mereka mencerminkan suatu peningkatan keinginan untuk menjadi suatu“negara normal” dalam hal memainkan suatu peran politik-militer yangindependen dan lebih aktif.

Upaya Jepang menjadi sebuah negara”normal”.

Selama tahun 1950-an dan 1960-anJepang terbagi oleh suatu konfrontasi ideologi kanan dan kiri yang kerasmengenai masalah keamanan dan peran layak Jepang di dunia.Golongan kiri, yang diwakili oleh Partai Sosialis Jepang (JSP), mendukung suatu posture netralitas tanpa senjata dalam Perang Dingin dan pelaksanaan idealisme-idealisme pasifis. Golongan kanan ,yang dipimpin oleh LDP, mendukung persekutuan dengan Amerika Serikat dalam Perang Dingin dan persenjataan terbatas untuk melengkapi jaminan keamanan Amerika Serikat yang diatur oleh Perjanjian Keamanan Mutual (saling menguntungkan) Amerika Serikat-Jepang. LDP pada akhirnya memenangkan konfrontasi ini, namun sebagianbesar dengan mempertimbangkan juga pandangan-pandangan kaum kiri.

Berdasarkan hasil kompromi, akhirnya dihasilkanlah doktrin Yoshida, yang menyangkut dijunjungnya perjanjian keamanan dengan Amerika Serikat, namun hal tersebut dianggap memerlukan beberapa kewajiban bagi Jepang selain penyediaan basis-basis pasukan militerAmerika Serikat dan dukungan politik dari kebijakan-kebijakan Amerika Serikat.Pembangunan kembali pasukan militer Jepang juga ditegaskan, namun hanyasejauh yang dibutuhkan untuk menjamin kemampuan pembelaan diri yangselayaknya.
Terdapat empat akibat penting dari Doktrin Yoshida:
1. Jepang tidak akan mengirimkan SDF-nya ke luar negeri untuk menjadi bagian dari skema-skema pertahanan kolektif;
2. Jepang tidak akan menjadi suatu kekuatan nuklir;
3. Jepang tidak akan mengekspor persenjataan; dan
4. Jepang akan membatasi pengeluran pertahanannya sampai 1 persen GNP.

Kelebihan doktrin tersebutantara lain:
1. Doktrin Yoshida memungkinkan Jepang untuk menyalurkan energi dan sumberdayanya pada pengejaran pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran material.
2. Doktrin ini memberi tempat pada kecenderungan isolasionist masyarakat Jepang dengan mengizinkan mereka untuk memisahkan diri mereka sendiri dari perpolitikan kekuasaan internasional dan dimensi militer keamanan internasional.
3. idealisme “negara perdamaian”-nya menarik nasionalisme Jepang dengan mendorong kebanggaan atas keunikan dan kelebihan Jepang.
4. Doktrin ini terkait erat dengan persepsike banyakan orang Jepang bahwa negara mereka tidak menghadapi ancaman keamanan eksternal yang serius.
5. Doktrin ini memberi jaminan bagi pihak di dalam negeri dan luar negeri yang kekhawatiran bahwa Jepang bisa kembali menjadi suatu kekuatan militer yang agresif.
Kekurangan utama Doktrin Yoshida adalah perumusan mereka untuk suatu posture pasif dan tidak mandiri dalam urusan-urusan politik-militer. Kaum nasionalis melihat bahwa hal ini bertentangandengan kehormatan Jepang, sedangan kaum internasionalis kekhawatiranbahwa hal ini bisa mencegah Jepang dari memainkan peran kepemimpinanyang bertanggung jawab.

Masa depan kekuatan pertahanan Jepang
Di Jepang setidaknya terdapat tiga kelompok besar dalam menyikapi masa depan kekuatan militer Jepang. Kelompok pertama disebut sebagai kelompok ”mainstream”. Semenjak pertengahan 1990-an, kelompok ini didominasi oleh kalangan realis-militer yang menginginkan Jepang memperoleh tanggungjawab politik dan militer yang lebih besar di dalam kerjasama pertahanan bilateral. Pasukan Beladiri Jepang (SDF) harus meningkatkan kemampuan command, control, communication and intelligence (C3I) dan memiliki kemampuan (power) militer yang independen. Berkaitan dengan kerjasama pertahanan AS-Jepang, kelompok ini berpandangan bahwa Jepang dan AS harus membangun forum dialog keamanan (security dialogue) serta meningkatkan saling-pemahaman (mutual understanding) dan efektivitas aliansi.

Kelompok kedua disebut sebagai kelompok nasionalis. Kelompok ini berpandangan bahwa Jepang harus membangun kemampuan pertahanan sendiri dan melepaskan diri dari AS. Langkah awal yang diusulkan adalah merevisi konstitusi yang membatasi Jepang untuk mengembangkan kemampuan militer.

Sementara kelompok ketiga adalah para Pasifis. Kalangan Pasifis menginginkan Jepang memberikan kontribusi di dalam kepemimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mengakhiri kerjasama keamanan dengan AS. Selain itu, kalangan Pasifis juga mendukung Jepang untuk mempertahankan konstitusi yang damai dan mengurangi kemampuan militernya.

Pergeseran dalam pemikiran keamanan Jepang selama 1990-an yangdijelaskan di atas didorong terutama oleh perubahan-perubahan eksternal. Ada sejumlah faktor yang mendorong berkembangnya pemikiran untuk meningkatkan kemampuan militer Jepang yaitu:
1. Persepsi ancaman keamanan dari Cina. Sejumlah perselisihan yang terjadi antara Cina dan Jepang, terutama yang berkaitan dengan luka sejarah ekspansi Jepang ke Cina, yang diikuti dengan aktivitas modernisasi militer Cina telah melahirkan kecemasan di Jepang. Bagi Jepang, Cina merupakan ancaman terbesar keamanannya. Hal ini dapat terlihat dari hasil jajak pendapat yang dilakukan harian Jepang Yomiuri Shimbun bahwa 65,3% dari 1.867 responden menyatakan bahwa Cina tidak dapat dipercayai. Persentase tersebut merupakan yang tertinggi dari enam kali jajak pendapat yang sama yang dilakukan oleh Yomiuri Shimbun sejak 1988.
2. Kecemasan terhadap aktivitas militer Korea Utara. Kemampuan rudal balistik Korea Utara (Taepodong-1) yang mampu menjangkau seluruh wilayah Jepang, serta diikuti oleh penolakan Korea Utara untuk mematuhi aturan-aturan keamanan internasional tentunya mendapat perhatian yang serius dari Jepang. Gerakan militer Korea Utara tergolong serius. Korea Utara menjadi kekhawatiran terbesar Jepang. Pada tahun 1998, Korut melakukan uji coba penembakan rudal jarak jauh hingga melewati udara Jepang dan jatuh di Samudra Pasifik. Kejadian itu membuat Jepang memulai riset pertahanan rudal.
3. Desakan dari masyarakat lokal dan keinginan dari AS sendiri untuk mengurangi kehadiran kekuatan militernya di Asia Timur. Munculnya beragam persoalan sosial berkaitan dengan kehadiran tentara AS di sejumlah negara telah melahirkan protes dan penolakan dari beragam masyarakat di negara-negara bersangkutan (Jepang, Korea Selatan dan Filipina).

Selain itu, peningkatan ancaman keamanan non-konvensional (terorisme) terhadap AS di berbagai kawasan menyebabkan AS terpaksa mengatur ulang penggelaran (deployment) pasukannya di seluruh dunia. Ini dapat dilihat dari keinginan AS untuk mengurangi jumlah pasukannya di Korea Selatan dari 32.500 menjadi 20.000 dalam beberapa tahun ke depan. Diperkirakan, pasukan-pasukan ”eks-Korsel” tersebut akan digunakan AS untuk menjalankan misi-misi lainnya di luar wilayah Asia.

Hambatan bagi remiliterisasi Jepang
Pasifisme pasca perang Jepang bukan berarti tidak bisa diubah. Pasifisme tersebutsudah mulai terpecah. Terdapat sejumlah hambatan bagi “remiliterisasi” Jepang.
1. Dengan adanya fakta bahwa Jepang belum bisa mencapai kesepakatan denganagresi pra-perangnya di Asia, setiap langkah yang dilakukannya untuk menjadi suatu kekuatan besar militer akan menimbulkan kewaspadaan di kalangantetangganya, khususnya China dan Korea Selatan yang sangat mencurigai niatan Jepang.
2. Defisit anggaran saat ini, ditambah dengan prospek peningkatan besar di masa depan dalam pengeluran kesejahteraan untuk memenuhi kebutuhan populasi Jepangyang semakin cepat menua, akan membatasi sumber-sumber daya yang ada untuk pertahanan.
3. Terlepasdari ketidak-puasan terhadap basis-basis Amerika Serikat dan kepentingan dalam suatu peran SDF yang lebih besar, kebanyakan orang Jepang menentang peningkatan pengeluaran pertahanan dan mendukung kelanjutan ketergantungan pada aliansi Amerika Serikat.
4. Badan pertahananJepang merupakan suatu “saudara yang lemah” di dalam pemerintah Jepang, yang didominasi oleh kementerian-kementerian yang lebih kuat sepertikeuangan, luar negeri, dan perdagangan internasional dan industri.
SDF tetap menjadi “quasi-militer” (Setengah militer) yang dikekang olehsejumlah pembatasan legal/hukum dan politik, dan yang masih dilihat denganrasa curiga atau ketidak-pedulian oleh banyak orang Jepang

Sebagaimana Jepang, Cina pun menganggap Jepang sebagai salah satu sumber ancaman keamanan terbesarnya (Crane, et.al., 2005). Persepsi ancaman ini dilandasi oleh sejarah ekspansi yang dilakukan Jepang terhadap Cina di masa lalu. Para pemimpin dan perancang strategi Cina selalu waspada terhadap terhadap kebangkitan Jepang sebagai kekuatan militer. Bagi mereka perubahan doktrin, struktur pertahanan dan gelar kekuatan yang dilakukan Jepang merupakan bukti upaya Jepang untuk meningkatkan kemampuan militer dan meningkatkan pengaruhnya di kawasan. Selain itu, Cina juga menaruh perhatian terhadap kerjasama keamanan antara Jepang dan AS. Cina memiliki ketakutan bahwa tanpa disadari, AS mempersenjatai kembali Jepang melalui perdagangan bilateral di bidang senjata dan teknologi pertahanan, khususnya kerjasama sistem pertahanan rudal. Kecemasan ini beralasan mengingat pada tahun 2004, AS dan Jepang telah menandatangani kerjasama sistem pertahanan rudal.

Bagi Cina, kerjasama pertahanan militer AS-Jepang ditakutkan merupakan sebuah strategi regional untuk menghambat dan membendung pengaruh Cina di Asia.
Dengan lemahnya CBMs, maka solusi yang diambil Cina berkaitan dengan melanjutkan terus program modernisasi militernya untuk menandingi peningkatan kemampuan militer Jepang. Jika ini yang terjadi maka kompetisi persenjataan di Asia Timur akan terus berlanjut. Sebagaimana dijelaskan oleh Andrew Mack & Desmond Ball bahwa ketakutan terhadap kebangkitan Cina dan Jepang merupakan salah satu alasan terjadinya modernisasi dan kompetisi persenjataan di Asia Timur (Mack & Ball, SDSC Working Paper, 1992). Hingga kini modernisasi dan kompetisi tersebut terus berlanjut. Hal ini dapat dilihat berdasarkan laporan SIPRI. Pada tahun 2000-2004, pengiriman senjata ke Asia merupakan yang tertinggi di dunia sebesar US$33.573 juta. Sebagai perbandingan, pengiriman senjata ke kawasan Amerika adalah US$6.932 juta, Afrika US$5.130 juta, Eropa US$21.875 juta, Timur Tengah US$ 14.517 juta

Upaya Jepang dalam persaingan nuklir dengan negara-negara tetangganya
Upaya Jepang dalam menghadapi Kemampuan delivery system Korea Utara (Taepodong I), yang dalam beberapa tahun ke depan kemungkinan akan dapat membawa hulu ledak nuklir, adalah dengan mulai mengembangkan sistem pertahanan rudal balistik (balistic missile defense system) bekerjasama dengan AS. Pemerintah Jepang telah menyatakan bahwa ambisi Korea Utara untuk menguasai senjata nuklir dan modernisasi militer Cina merupakan ancaman utama keamanan nasional Jepang saat ini. Jika Jepang melakukan modernisasi militer maka negara-negara lain di seluruh kawasan Asia Timur akan melakukan hal yang sama karena ketakutan terhadap kebangkitan militer Jepang merupakan alasan negara-negara di kawasan ini melakukan modernisasi persenjataan. Apalagi jika Korea Utara sukses dalam pengembangan Taepodong II yang memiliki daya jelajah 4.400 km-6.700 km. Sehingga mampu menjangkau AS (Alaska), India, Pakistan dan seluruh wilayah Indonesia.

Perkembangan Terakhirnya pada tanggal 19 Desember 2007, Jepang untuk pertama kalinya menembak jatuh sebuah rudal balistik dari udara, dalam uji coba sistem pertahanan untuk menangkal serangan rudal dari negara-negara tetangganya. Kapal Perusak Pasukan Bela-Diri Jepang (MSDF) yang ditempatkan di lepas pantai Hawaii menembakkan peluru kendali anti rudal, Standard-3 (SM-3), yang dikembangkan Amerika Serikat untuk menghancurkan sasaran latihan yang ditembakkan dari pantai. Jepang dan Amerika bekerja sama dengan erat dalam proyek pertahanan rudal sejak Korea Utara menembakkan peluru kendali di atas Jepang utara pada tahun 1998.

Pemerintah telah mengedepankan upaya untuk mengembangkan pertahanan rudal balistik. Walaupun diperlukan biaya mahal dari program ini, Jepang akan tetap melanjutkan upaya untuk memperbaiki kredibilitas sistem ini. Sasaran rudal ditembakkan dari Fasilitas Rudal Pasifik milik angkatan laut AS di pulau Kauai, Hawaii. Sebuah kapal Jepang, JS Kongo, melacak rudal itu dan kemudian menembakkan peluru kendali penghadang rudal setelah tiga menit, dan sasaran dihancurkan sekitar 160 km di atas Samudra Pasifik. Jepang berencana memasang sistem penghadang rudal di empat kapal perang mereka yang memiliki sistem pelacakan Aegis yang terkenal canggih.

Korea Utara juga diduga memiliki beberapa rudal jarak menengah Nodong yang mampu menghantam Jepang. Sasaran tes dikatakan mirip dengan jenis-jenis rudal tersebut. Tes ini menandai tahap kedua dari pertahanan rudal Jepang yang terus dikembangkan.
Upaya lain yang dilakukan Jepang untuk menekan percobaan nuklir Korea Utara adalah dengan menetapkan larangan bagi seluruh kapal Korea Utara memasuki pelabuhan Jepang serta larangan impor dari Korut. Volume perdagangan antara Jepang dengan Korut mencapai sekitar 100 juta dolar AS pada 2005. Warga negara Korut juga dilarang masuk ke Jepang.

Dengan demikian, keinginan Jepang untuk meningkatkan kemampuan militernya harus benar-benar dipertimbangkan. Karena implikasinya dapat berupa dilema keamanan: bukannya menciptakan keamanan bagi Jepang, malah sebaliknya meningkatkan kerentanan
keamanan nasional Jepang dan kawasan Asia Timur.


KESIMPULAN

Setelah kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, Amerika Serikat memaksa Jepang mengubah konstitusinya dimana Jepang menjadi negara Pasifis dan hanya dibolehkan memiliki angkatan bela diri (japan Self Defense Force). Kita tentu tidak boleh terlalu yakin bahwa Jepang tidak akan berkembang, walaupun secara perlahan, menjadi suatu kekuatan militer yangbesar. Dengan anggaran pertahanan terbesar ketiga sedunia dan basis industridan teknologi yang sangat canggih, Jepang tak diragukan punya potensi untuk bisa seperti itu. Adanya persepsi ancaman keamanan dari Cina, Kecemasan terhadap aktivitas militer Korea Utara dan desakan dari masyarakat lokal dan keinginan dari AS sendiri untuk mengurangi kehadiran kekuatan militernya di Asia Timur, maka berkembanglah pemikiran Jepang untuk meningkatkan sektor pertahanan keamanannya. Namun untuk meningkatkan kemampuan militernya harus benar-benar dipertimbangkan karena implikasinya dapat berupa dilema keamanan: bukannya menciptakan keamanan bagi Jepang, malah sebaliknya meningkatkan kerentanan keamanan nasional Jepang dan kawasan Asia Timur


DAFTAR PUSTAKA

BUKU:
Fadhli, Aulia. Menjadi Pemenang seperti Bangsa Jepang. 2007. Pustaka Pinus. Yogyakarta
SITUS WEB:
Uni Sosial Demokrat - http://www.unisosdem.org/ekopol.php
The Hikam Forum - http://thehikamforum.blogspot.com/2008/06/geopolitik-global-dan-ancaman-keamanan.html
BBC Indonesia - http://www.bbc.co.uk/indonesian/
Kompas Online - http://64.203.71.11/kompas-cetak/0308/11/ln/
Antara News - http://www.antara.co.id/catidx/?ch=int
Tempo Interaktif - http://www.tempointeractive.com/hg/luarnegeri/
Suara Merdeka - http://www.suaramerdeka.com/harian/0610/12/x_int.html
Lintas Berita - http://www.antara.co.id/arc/2008/7/3/Jepang-siaga-keamanan-tinggi-jelang-pertemuan-puncak-g8/
Situs Keamanan Asia Timur - http://wendhika-wendie.blogspot.com/

BacA jUgA iNi



Category:

5 comments:

Anonymous said...

bagus banget analisanya, makasih ya dah berbagi ilmu...

Agus Fitriana said...

Terimakasih,analisa yg bagus!

Anonymous said...

Bagus bgt tulisan, argumen, dan analisisnya.
Saya senang baca tulisan ini soalnya menarik, gak bikin bosan, dan bahasanya gak bertele2.
Tapi sayangnya gak bisa dicopas. T-T
Saya juga anak HI dari UI.
Salam kenal ya. :D
Terimakasih.

Anonymous said...

Kamu anak HI dari universitas mana?
Salam kenal. :D

Desi Prihantini said...

Terimakasih atas infonya, izin copy untuk tugas sekolah... syukron.

Post a Comment