NORMALISASI HUBUNGAN CINA - UNI SOVIET


HUBUNGAN CINA - UNI SOVIET

Sejak Rusia masih di bawah kepemimpinan Tsar dan Cina masih bernama Tiongkok serta diperintah kaisar, telah terjalin hubungan politik dan ekonomi antara kedua negara. Jalinan itu berlanjut hingga era Perang Dingin, saat Rusia melebur dalam Uni Soviet yang komunis dan Cina juga diperintah oleh partai komunis. Tapi, meski sama-sama menganut paham komunisme, hubungan kedua negara pada era Perang Dingin pasang surut karena persaingan dominasi global. Persaingan antara Uni Soviet (kini Rusia) dan Cina begitu hebat.

Pada tahun 1950-an, Mao Tse-tung dan J. Stalin menandatangani perjanjian hubungan antara kedua negara tersebut. Cina dan Uni Soviet menjalin aliansi militer yang erat dalam menghadapi blok barat yang dipimpin Amerika Serikat. Pada 1960an, Cina mengubah strateginya dengan mempromosikan a world-wide revolution yang berakibat retaknya hubungan Cina dengan Uni Soviet. Sementara itu, Cina tetap berkonfrontasi dengan Amerika Serikat. Cina mulai memainkan peran sebagai pemimpin kubu sosialis, yang terlepas dari radian Uni Soviet.

Di tahun 1970an dimana Cina mulai memandang dirinya sebagai a self-styled third word leader, yang berbeda dengan Uni Soviet dan Amerika Serikat. Uniknya, di pertengahan 1970an, Cina mulai membentuk aliansi strategis dengan Amerika Serikat untuk memperkuat kedudukannya di mata Uni Soviet. Walau hubungan dengan blok Barat itu tidak begitu signifikan, dapat dikatakan bahwa Cina mulai bersikap lebih independen, khususnya dalam kaitannya dengan Uni Soviet.

Pada 3 April 1979 RRC mengumumkan untuk tidak akan memperpanjang lagi perjanjian persahabatan dengan Uni Soviet. Pada tahun 1970-an dan 1980-an, Cina bekerjasama dengan Amerika Serikat dalam menghadapi Uni Soviet.

Walaupun telah memutuskan hubungan, ternyata kedua pihak masih terus saling menukar pesan melalui saluran diplomatik mereka. Beijing sendiri rupanya sementara itu menilai reaksi sikap Moskow tentang kemungkinan mereka mengadakan perundingan. Moskow sendiri ternyata berhasrat sekali berunding asalkan tanpa prasyarat. Akhirnya kedua pihak sepakat untuk berunding di Moskow selama Juli dan Agustus 1979.

Tujuan normalisasi hubungan secara umum antara Cina dan Rusia adalah adalah dengan perbaikan hubungan, diharapkan mampu menampung kepentingan kedua negara dalam menanggapi isu-isu internasional, termasuk tataran dunia baru, stabilitas global, tantangan, dan ancaman baru

Tujuan khusus Cina dalam normalisasi hubungan ini adalah meningkatkan hubungan perdagangan dan teknologi dengan Barat guna menunjang program modernisasinya. Cina kebetulan sedang menyesuaikan kembali rencana modernisasinya yang ambisius itu disebabkan kekurangan modal dan devisa. pabrik milik Cina itu yang memakai disain Soviet diduga akan menelan biaya modernisasi lebih rendah jika bantuan Soviet dilanjutkan, ketimbang ia mengimpor serba baru dari Eropa, Amerika dan Jepang. Cina juga Cina melirik cadangan minyak dan gas Rusia ketika ketergantungannya terhadap impor meningkat seiring dengan cepatnya pertumbuhan ekonomi

Bagi Rusia, normalisasi hubungan tersebut dapat merupakan strategi jitu. Moskow telah jadi 'bulan-bulanan' Barat dengan 'merebut' beberapa mantan sekutunya semasa Pakta Warsawa dan Uni Soviet.Kekuatan Barat, yang dipelopori AS melalui Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), coba memperluas pengaruh mereka hingga ke Timur, ke wilayah yang dulu di bawah pengaruh Soviet.Perluasan NATO itu disoroti Rusia sebagai upaya mengucilkan Negeri Beruang Merah dari percaturan politik internasional. pakta yang paling strategis adalah menggandeng Cina. Kebetulan Cina juga berambisi menandingi Barat di berbagai bidang

Seusai Perang Dingin yang diwarnai bubarnya Soviet pada 1991, konfigurasi hubungan antara kekuatan dunia berubah drastis. Perbaikan hubungan berlangsung antara Cina dan Rusia. Hubungan AS dengan Cina maupun dengan Rusia pun membaik meski masih tersisa prasangka ideologis.

Partner utama Rusia di kawasan Asia adalah Cina. Kedua negara tersebut, seperti yang telah dikatakan di Moscow dan Beijing, mengembangkan kemitraan strategis yang didasari oleh persamaan hak dan saling percaya. Kontak diantara kedua pemimpin negara tersebut menjadi rutin - pertemuan diadakan tidak kurang daripada tiga kali dalam setahun. Posisi kunci dalam hubungan kedua belah pihak terletak pada dua pertemuan - summit Rusia dan Cina terakhir - kunjungan Presiden Federasi Rusia V.V. Putin ke Cina pada 14-16 Oktober 2004, dan juga kunjungan Pemimpin RRC ke Rusia pada 30 Juni - 3 Juli 2005.

Pada tanggal 3-4 Oktober Perdana Menteri Rusia, M.E. Fradkov, mengunjungi Cina. Suatu pertanda yang penting pada tahun 2005 adalah ratifikasi oleh kedua negara tersebut Persetujuan Tambahan Rusia-Cina mengenai perbatasan diantara kedua negara di bagian timurnya yang menuntaskan dan menutup perselisihan mengenai perbatasan yang selama ini menjadi kendala dalam hubungan Rusia dan Cina. (Pada tahun 2004, negara Rusia setuju untuk menyerahkan Kepulauan Yinglon dan sebagian Kepulauan Heixiaxi kepada RRC, dan sekaligus menamatkan percekcokan perbatasan antara kedua negara itu. Kedua pulau ini terletak di antara persimpangan sungai Amur dan sungai Ussuri dan sebelum itu diatur oleh Rusia dan dituntut oleh RRC).

Dalam normalisasi hubungan tersebut, terdapat beberapa hambatan, diantaranya: Rusia dan Cina harus lebih dulu menyelesaikan perbedaan mereka terkait peningkatan kekuatan militer Beijing dan kekuatan ekonomi Negeri Tirai Bambu. agar upaya menandingi atau meredam kejumawaan Barat di dunia dapat terlaksana. Mereka juga harus segera menghentikan persaingan dalam menanamkan pengaruh di kawasan Asia Tengah yang kaya sumberdaya.Jika semua perbedaan itu teratasi, tak ada yang meragukan kemampuan Sino-Rusia dalam meredam hegemoni Barat di kancah internasional
Beberapa bidang yang paling perspektif dalam kerjasama Rusia - Cina adalah peralatan energi, teknik penerbangan sipil, penerapan bersama teknologi moderen termasuk bio-teknologi, teknologi pengiritan sumber daya, IT - teknologi dsb., apalagi bidang militer .

Kerjasama tersebut direalisasikan antara lain, Cina dan Rusia akan bekerja sama memonitor pencemaran sungai yang melintasi perbatasan kedua negara menyusul pencemaran yang terjadi akibat tumpahan bahan kimia; Moskow akan terus melanjutkan kerjasama aktif dan jangka panjangnya dengan Cina di berbagai sektor, seperti minyak dan gas serta listrik dan energi nuklir; Rusia dan Cina dalam waktu dekat akan melakukan kerja sama demi mengekplorasi bulan; Cina dan Rusia juga akan membentuk proyek pengiriman pesawat ke satelit Mars, Phobo. Misi yang akan dirilis tahun 2009 ini bertujuan mengambil sampel tanah Phobo untuk dibawa ke bumi; Cina dan Rusia sudah sering melakukan studi bersama di bidang astronomi. Cina banyak membeli teknologi Rusia untuk meluncurkan misi-misi luar angkasanya; Cina dan Rusia juga bekerjasama dalam Upaya menyelesaikan sengketa internasional atas ambisi nuklir Iran.

REFERENSI

SITUS WEB
Cina Radio International - http://indonesian.cri.cn/1/2008/10/21/Zt1s88702.htm
Geografiana - http://www.geografiana.com
Indonesian Radio - http://indonesian.irib.ir/
Inovasi Portal Berita, Inilah - http://www.inilah.com/
Suara Merdeka - http://www.suaramerdeka.com/
Sinar Harapan - http://www.sinarharapan.co.id/
Jurnal Net - http://www.jurnalnet.com/
Tempo - http://majalah.tempointeraktif.com/
Kedutaan Besar Federasi Rusia di Indonesia - http://www.indonesia.mid.ru/

BacA jUgA iNi



Category:

3 comments:

Yogi Marsahala said...

Politik China susah ditebak

Yogi Marsahala said...

China mendekat ke Amerika Serikat ketimbang Uni Sovyet,komentar juga ya di blog saya www.goocap.com

rizal de said...

"Join the Army, meet interesting people, and kill them."
maksudnya apaan?

Post a Comment